Rabu, 06 Juli 2011

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)


Aisyah -radhiallahu anha- berkata:

كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ

“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukharino. 321 dan Muslim no. 335)


Juga dari Aisyah -radhiallahu anha- dia berkata:

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَسَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَلِكِ عِرْقٌ وَلَيْسَتْ بِالْحَيْضَةِ فَإِذَا أَقْبَلَتْ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِي وَصَلِّي

“Fatimah binti Abi Hubaisy mengalami istihadhah (mengeluarkan darah penyakit). Maka aku bertanya kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan beliau menjawab, “Itu hanyalah urat yang pecah dan bukanlah darah haid. Jika haid datang maka tinggalkanlah shalat dan jika telah selesai maka mandilah lalu shalatlah.” (HR. Al-Bukhari no. 320)



Penjelasan:

Allah Ta’ala telah menetapkan adanya haid bagi anak-anak wanita Nabi Adam, dan haid adalah darah kotor yang keluar dari rahim.
Jika seorang wanita itu mengalami haid maka dia mempunyai hukum tersendiri yang berkenaan dengan ibadahnya dan hubungan dia dengan suaminya, yang berbeda hukumnya dengan wanita yang suci.
Tatkala haid ini dialami oleh setiap wanita maka wajib atas dirinya untuk mempelajari hukum-hukum haid tersebut.

Adapun istihadhah maka dia adalah darah biasa yang keluar karena penyakit dan biasanya karena urat yang pecah, yang mana keluarnya berlangsung terus-menerus atau berhenti tapi sebentar. Hukumnya berbeda dengan hukum haid karenanya dia juga butuh dipelajari, walaupun keluarnya darah ini hanya pada sebagian wanita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar